[Fanfiction] [One Shoot] The Last Moment

Title: The Last Moment

Author:  gheanlee729 (Devanda Ghean)

Genre: Sad, Romance

Cast: Lee Donghae >< Im Yoon Ah

 

The Last Moment

Kurasakan sinar matahari menembus jendela kamarku. Aku yang masih terbaring di ranjang segera membuka mata dan siap memulai hariku untuk sekolah. Ya! Inilah pekerjaanku sehari-harinya, sekolah SMA. Namaku Im Yoon Ah, aku merupakan siswi SMA yang ceria, aktif, juga lumayan berbakat dalam bidang menari. Aku dikenal sebagai yeoja penyemangat oleh teman-temanku. Namun itu Yoona beberapa tahun yang lalu. Tapi, kini Yoona yang seperti itu telah berubah, aku bukanlah Yoona yang selalu ceria dan penyemangat semenjak semua ini terjadi padaku.

Flashback

 

“Dokter, apa yang terjadi pada saya? Mengapa akhir-akhir ini saya sering sekali pingsan dan mimisan?” tanya Yoona pada seorang dokter

“Kau.. kau mengidap penyakit Leukimia” ucap Dokter lesu

“Mwo? Le..leu..leuki..mia?” tanya Yoona tersentak kaget

“Ini sudah ada semenjak beberapa tahun yang lalu, mungkin selama ini kau masih bisa bertahan. Namun, sekarang penyakitmu sudah akut. Ini sudah stadium akhir” ucap Dokter

“Apa ini tidak bisa disembuhkan?” tanya Yoona lagi

“Satu-satunya jalan, kau harus melakukan kemo atau operasi” ucap Dokter

“Kemo? Operasi? Apa itu akan membuatku sembuh seperti sediakala?” tanya Yoona terus meneteskan air matanya

“Kemungkinannya sangat kecil, tapi itu lebih baik daripada didiamkan seperti ini” ucap Dokter

“Apa kemungkinan terburuknya?”

“Kemungkinan terburuk, ini semua akan merenggut nyawamu. Tapi jika berhasil, kau akan sembuh meski tak seperti sediakala” ucap Dokter

“Tolong pikirkan ini baik-baik” lanjut Dokter

Yoona masih terdiam memikirkan semua yang terjadi padanya “Baiklah, gomawo” ucap Yoona kemudian beranjak, dengan air matanya yang  terus menetes

“Ah, dok, jangan beritahu ini pada siapapun. Kumohon” ucap Yoona kemudian pergi meninggalkan ruangan dengan perasaan campur aduk

 

Flashback END

 

Selesai mandi, aku segera menuju meja rias dan menyisir rambutku. Air mata tak terasa menetes di pipiku. Melihat banyak helaian rambut di sisirku

“Rontok lagi” gumamku pelan

Selama setahun aku mengetahui aku mengidap leukimia. Namun, tak seorang pun tau kecuali aku dan dokter yang menanganiku. Kata dokter, aku cukup hebat bisa bertahan dalam kondisi seperti ini selama ini. Tak pernah terpikirkan untukku agar menjalani operasi sesuai saran dokter, aku lebih memilih menikmati hari-hari terakhirku di dunia, daripada harus menjalani operasi dan perawatan membosankan yang belum tentu berhasil.

Aku segera menuju halaman depan kearah sopir yang telah menungguku, kulihat keadaan rumah telah sepi. Seperti biasa, orang tuaku selalu sibuk dengan pekerjaannya. Pantas saja mereka tak menyadari penyakitku sama sekali, aku jarang bertemu mereka meski kami tinggal satu atap.

Aku segera melangkahkan kakiku menuju sekolahku, terlihat seorang namja telah menungguku di gerbang. Dia Lee Donghae, dia adalah sahabatku sejak kami duduk dibangku SD. Aku sangat dekat dengannya, sejak SD eomma dan appaku selalu sibuk dengan pekerjaan kantor mereka. Donghae Oppalah yang selalu menemaniku saat aku sendiri. Jujur, aku mempunyai perasaan lebih terhadapnya. Aku mencintainya sudah sangat lama, namun aku memilih untuk memendamnya aku tak ingin persahabatan kami hancur hanya karena itu.

Yoona POV END

Donghae POV

“Oppa! Apa kau telah menunggu lama?” tanya Yoona berlari kecil menghampiriku

“Kau lama sekali, kajja kita masuk” ucapku kemudian membelai rambutnya dan mengajaknya masuk

“Yoong, apa kau sakit?” tanyaku sembari berjalan

“M..mwo?” tanyanya kaget, aneh batinku

“Kau terlihat sangat pucat, kau sakit?” tanyaku sedikit khawatir, sebenarnya aku sedikit curiga dengannya, belakangan ini ia terlihat semakin pucat dan lemas. “Ani, gwenchana” ucap Yoona mengelak

Aku Lee Donghae, biasa dipanggil Donghae. Sejak SD aku selalu menjadi sahabat Yoona, ia benar-benar sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Namun, sebenarnya aku memiliki perasaan yang lebih dari sekedar oppa dan dongsaeng padanya. Aku mencintainya! Entahlah, aku tak pernah bisa mengungkapkannya. Sebenarnya, akhir-akhir ini aku merasa curiga terhadapnya. Ia terlihat pucat dan lemas. Namun setiap kutanya mengapa, ia selalu mengelak dan berkata tak apa-apa. Dulunya, ia adalah gadis yang sangat ceria dan mempunyai banyak teman. Entahlah, dia tiba-tiba berubah menjadi gadis yang pendiam, ia juga menghindari beberapa temannya. Mungkin saat ini ia hanya memiliki dua sahabat yeoja yang sangat dekat dengannya, selain aku.

Donghae POV END

Author POV

Yoona dan Donghae berpisah jalan, karena kelas mereka berbeda. Yoona segera masuk kedalam kelasnya, ia duduk pojok belakang. Setelah duduk, ia tak seperti teman teman seperti biasanya yang bercerita dan bergosip dengan teman lainnya, ia selalu mengeluarkan buku dan menutupi wajahnya, kadang ia tak membaca buku itu justru ia menangis meratapi nasibnya kini.

“Yoong” ucap Yuri dengan Jessica di sampingnya

“Ada apa denganmu?” tanya Jessica

“Gwenchana” ucap Yoona

“Kami tau kau tak sedang baik-baik saja, kau sangat berubah semenjak kita naik ke kelas dua. Ada apa denganmu? Aku tau betul sikapmu saat kelas satu, kau yeoja penyemangat. Namun kini? Mana Yoonaku yang selalu ceria?” ucap Jessica duduk disamping Yoona, tangisan Yoona semakin menjadi-jadi. Yoona tak kuasa menahan semuanya, Yuri dan Jessica adalah kedua sahabatnya semenjak kelas satu. Mereka bertiga dikenal sebagai yeoja yang ceria disekolahnya, namun tidak setelah Yoona menjauh dari Yuri dan Jessica semenjak ia naik ke kelas dua. Tapi tetap saja Yuri dan Jessica terus berusaha mendekati Yoona meski kadang Yoona tak menghiraukan mereka

“Mian unnie, aku tak bisa memberitahu kalian. Namun, suatu saat kalian pasti akan mengetahuinya” ucap Yoona

Saat pelajaran dimulai, Yoona sama sekali tak mendengarkan penjelasan guru. Ia hanya melamun dan mengetuk-ketukkan bulpennya di mejanya itu. Ia benar-benar seperti yeoja yang kehilangan semangat hidupnya. Bagaimana tidak? Kini ia harus menerima kenyataan bahwa ia mengidap penyakit yang cukup mematikan. Disisi lain, tak ada seorangpun yang tau mengenai penyakitnya itu. Hingga tak ada seorangpun dapat menyemangatinya. Orang tuanya yang selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing tambah membuat Yoona terpukul. Seharusnya, detik-detik terakhir ia berada di dunia ini, ia sangat ingin bersama orang yang ia cintai. Tak terasa, darah segar mengalir di hidung Yoona, Yoona yang menyadari itu segera mengambil tissue yang sengaja ia siapkan. Namun darah tak segera berhenti membuat Yoona khawatir

“Mian seosangnim, aku harus ke kamar mandi” ucap Yoona kemudian berlari keluar dari kelasnya sebelum ada yang menyadari bahwa darah sudah mengalir deras di hidung mungilnya itu.

Author POV END

Yoona POV

Aku segera berlari menuju kamar mandi, aku segera membersihkan darah yang mengalir deras dari hidungku ini. Berkali-kali aku membersihkan darah ini, namun sia-sia hidungku terus mengeluarkan darah darah segar ini. Aku menangis bersandari di tembok kamar mandi, kubiarkan darah terus mengalir hingga menetes di seragamku.

“OMO! Yoong!” ucap seseorang yang sangat kukenal segera menghampiriku

“Unnie? Mengapa kau disini?” tanyaku kaget aku segera menutupi hidungku yang berlumuran darah meski aku sadar Yuri unnie sudah mengetahui darah dimana-mana

“Apa yang sebenarnya terjadi? Ceritakan padaku. Kau sakit apa?” tanya Yuri unnie meneteskan air matanya, aku hanya bisa menangis, aku diam, aku tak tau harus berkata apa. Semua ini terlalu sulit untuk diungkapkan.

“Yoong, apa yang terjadi padamu?” tanyanya lagi kemudian segera membersihkan darah di hidungku yang sepertinya sudah berhenti mengalir

“Mian unnie, aku menyembunyikannya darimu selama ini” ucapku sembari menunduk

“Ada apa?” tanyanya bingung

“Aku..aku.. aku mengidap penyakit Leukimia” ucapku lagi-lagi meneteskan air mataku

“M..mwo???” ucap Yuri unnie tersentak kaget

“Kumohon, jangan katakan ini pada siapapun. Hanya kau dan aku yang tau. Jebal unnie” ucapku memohon kemudian memeluknya

“Eomma dan Appamu tau?” tanya Yuri unnie, aku hanya menggeleng dan terus terisak

“Donghae Oppa?” tanyanya lagi, lagi-lagi aku menggeleng tanda tak ada seorang pun yang tau penyakitku

“Mengapa kau merahasiakan ini? Ini hanya akan membuatmu semakin sakit Yoona” ucap Yuri unnie terus terisak pelan

“Mian unnie, aku hanya ingin bahagia di sisa hidupku. Bukan malah membuat mereka khawatir” jawabku

“Apa ini alasanmu berubah menjadi yeoja pendiam dan selalu tak bersemangat? Dan menjauhi semua orang termasuk aku dan Sica?” tanya Yuri unnie lagi, aku hanya bisa menjawab dengan anggukan disertai tangisanku yang semaki menjadi-jadi

“Jebal unnie, jangan katakan ini pada siapapun” ucapku sembari memohon

“Baiklah, aku akan merahasiakannya” ucapnya mempererat pelukan kami

“Gomawo unnie” jawabku

Sepulang sekolah, aku segera pulang berharap tak ada yang menyadari wajahku pucat pasi sekarang. Beruntung, benar-benar tak ada yang menyadari sesampainya aku di mobil jemputan aku merasakan handphoneku bergetar. Kulihat sebuah pesan masuk, “Donghae Oppa?”  batinku . Kubuka sebuah pesan masuk dari Donghae Oppa

“Yoong, kutunggu kau di sungai han jam 3 sore” begitulah isi pesan dari Donghae Oppa, seketika aku tersenyum sembari membacanya.

-Han River-

“Oppa? Apa kau menunggu lama?” tanyaku mendapati seorang namja yang ingin kutemui sedang duduk di sebuah kursi ditepi sungai Han

“Ani, aku baru saja datang” jawabnya singkat

“Ada apa? Mengapa tiba-tiba menyuruhku kesini?” tanyaku sembari duduk disampingnya

“Aku ingin mengatakan sesuatu” ucapnya

“Mwo? Katakan saja” jawabku tanpa menatapnya karena aku masih menikmati suasana sungai yang indah ini

“Yoong..” ucapnya sembari menggenggam tanganku, aku yang terkejut segera menatapnya kebingungan

“Apa kau tau? Aku benar-benar menyukaimu, ani aku mencintaimu Yoong. Bisakah kita lebih dekat dibanding sepasang sahabat?” tanyanya

“Apa maksudmu?” tanyaku berbohong, meski aku tau apa yang dimaksud olehnya

“Yoona, saranghae” ucapnya lantang

Aku terdiam sejenak mendengarnya mengatakan hal itu, tak dapat diungkiri hatiku amat senang mendengar itu. Ingin sekali aku berkata “Nado saranghae Oppa”. Perasaanku selama ini benar-benar terbalaskan, namun kesenangan itu tak berlangsung lama. Aku segera mengingat sesuatu yang sangat membuatku terpukul, tentang penyakitku yang selalu membuatku kehilangan semua senyumku.

“Oppa, apa kau tak menyadari semuanya? Aku tak mempunyai perasaan sama sekali padamu kecuali hanya sebagai dongsaeng dan oppa. Mengapa kau mengatakan itu semua?” ucapku tak berani menatapnya, aku tak ingin ia menyadari kebohongan yang ada di mataku, kuyakin ia benar-benar sakit hati dan kecewa, namun apa daya? Tak ada kata-kata lain yang bisa kukatakan selain itu semua. Tuhan, hatiku benar-benar sakit mendengar kata-kata pedas itu dari mulutku sendiri. Tapi kurasa itu semua lebih baik dibanding ia terus mencintaiku. Untuk apa aku bersamanya jika aku akan segera pergi meninggalkannya. Itu semua hanya akan membuatnya sakit hati atas kepergianku nanti, sudah cukup banyak orang tersakiti karenaku.

Mianhe Oppa, aku hanya ingin melihatmu bahagia di sisa-sisa aku dapat menghembuskan nafas. Itu sudah cukup bagiku

“Apa kau tau? Kau namja menyebalkan, dan kau bukanlah tipe idealku. Aku tak menyukaimu” ucapku lagi sembari meneteskan mata, namun segera kuhapus agar ia tak melihat aku menangis

Bencilah aku, itu lebih baik daripada kau mencintaiku. Aku hanyalah yeoja yang akan membuatmu susah, jika kau membenciku, bukankah itu lebih baik untukmu ketika aku pergi nanti?

Dapat kutatap wajahnya yang begitu sedih karena kata-kata yang kuucapkan barusan, aku tak ingin disini dalam keadaan seperti ini. Air mataku terus saja berusaha menerobos pertahanannya, selagi aku masih bisa menahan semua aku memilih untuk meninggalkannya

“Mianhe Oppa, ada urusan yang lebih penting” ucapku beranjak dari tempat duduk itu

Aku berjalan pelan meninggalkan Donghae Oppa yang pasti diliputi rasa kecewa, aku membiarkan semua air mataku lepas. Hatiku benar-benar seperti tertusuk beribu jarum, benar-benar sakit. Disaat cintaku terbalaskan, justru aku harus menyakitinya dengan semua ini.

Tuhan, apa salahku? Mengapa engkau begitu tega memberikan semua masalah ini padaku? Aku benar-benar tak sanggup kehilangannya.

Yoona POV END

Donghae POV

Dia meninggalkanku sendiri disini, aku benar-benar tak menyangka semua kata-kata itu akan keluar dari mulutnya. Ia menolakku mentah-mentah, itu benar-benar menyakitkan. Apa itu semua benar-benar dari hatinya? Jika iya, mengapa selama ini aku benar-benar tak menyadarinya. Baboya, bagaimana bisa bertahun-tahun aku bersamanya dan menyukainya. Tapi aku tak tau perasaannya? Jujur, aku kecewa dengan sikapnya yang tak seperti biasanya itu. Namun tersirat rasa curiga dengan tatapannya tadi, aku yakin itu bukan dari hatinya. Yoona, saat dia berbohong ia tak akan menatap lawan bicaranya. Apa tadi dia berbohong? Tapi apa alasannya?

Malam itu adalah malam terakhir aku melihat Yoona, sudah 3 hari ini aku tak melihatnya sama sekali di sekolah. Entah karena ia menghindariku atau apa. Berkali-kali aku mengunjungi kelasnya, namun tetap saja temannya mengatakan mereka tak melihat Yoona.

“Yul!” teriakku memanggil Yuri yang baru saja keluar dari perpustakaan

“Ah? Oppa? Ada apa?” tanya Yuri

“Apa kau tau dimana Yoona?” tanyaku, Yuri hanya diam menundukkan wajahnya. Terlihat jelas wajahnya berubah lesu,

“Ada apa?” tanyaku bingung dengan ekspresi wajah Yuri yang mendadak lesu

“Baiklah, sepertinya sudah saatnya kau mengetahui ini semua” ucap Yuri tiba-tiba

“Apa maksudmu? Mengetahui apa?” tanyaku diliputi kebingungan

“Ikut aku” ucapnya menarik tanganku

Yuri mengajakku duduk dibangku taman. Kami pun duduk di salah satu bangku yang berada dibawah pohon yang cukup rindang

“Hiks” terdengar suara tangisan Yuri yang semakin lama semakin kencang

“Yul? Ada apa denganmu?” tanyaku semakin bingung dengan sikapnya hari ini

“Yoona…” ucapnya disela-sela tangisannya

“Yoona… Dia terkena….” lanjutnya masih terisak

“Yoona? Ada apa dengannya?” tanyaku mulai khawatir mendengar nama Yoona yang Yuri sebut di sela-sela tangisannya

“Yoona sakit” ucapnya singkat, tangisannya semakin meledak. Tangannya menutupi wajahnya menandakan ia sedang menangis

“Sakit? Sakit apa?” tanyaku tak henti-hentinya diliputi rasa penasaran yang menjadi-jadi

“Leu..leukimia” jawabnya terbata-bata karena ia masih terisak

“Le? Le.. Leukimia?” tanyaku tak percaya dengan perkataan Yuri barusan, meski terdengar begitu jelas. Aku hanya ingin meyakinkan itu semua tak benar. Yoona mengidap Leukimia?

“Ne, mianhe, Yoona melarangku untuk memberitau siapapun” ucapnya

“Sejak kapan?” tanyaku dengan air mata yang mulai menetes di pipiku

“Semenjak ia berubah drastis, tepatnya satu tahun yang lalu” jawabnya semakin menangis kencang

“Mianhe Oppa, aku ingin sekali memberitaumu semua ini. Namun Yoona benar-benar melarangku” lanjutnya masih diiringi tangisan

“Apa selama ini hanya kau yang mengetahui ini?” tanyaku diiringi anggukan pelan Yuri

“Ini alamat dan kamar rumah sakit Yoona dirawat. Penyakitnya benar-benar parah sekarang, ia harus dirawat” ucap Yuri kemudian pergi meninggalkanku yang masih tak percaya dengan semua ini.

Aku masih terdiam duduk dibangku taman ini dengan berbagai pikiran masuk kedalam otakku. Aku hanya bisa menangis mengetahui keadaan orang yang sangat aku sayangi seperti ini. Dan parahnya, aku benar benar tak mengetahui semua yang terjadi padanya. Aku justru mengetahui semua ini dari orang lain. Apa aku bisa dikatakan teman? Teman macam apa aku ini huh?

Sepulang sekolah, segera kulajukan mobilku menuju rumah sakit yang telah ditunjukkan oleh Yuri. Sesampainya disana, aku segera mencari kamar tempat Yoona dirawat. Terlihat kedua orang tua Yoona baru selesai bercengkrama dengan seorang dokter

“Oh? Lee Donghae? Apa itu kau?” ucap Tuan Im

“Ne, Tuan” ucapku membungkuk sopan. Terlihat Nyonya Im masih terisak disebelah Tuan Im. Tentu saja aku tau alasannya.

“Donghae, apa kau sudah tau mengenai Yoona?” tanya Tuan Im

“Ne Tuan, Aku baru saja mengetahuinya” jawabku

“Tapi, apa anda tak mengetahui ini?” tanyaku tak percaya

“Kami baru mengetahuinya tadi pagi, Yuri menelpon kami dan meminta kami untuk datang kesini. Katanya Yoona sudah disini semenjak kemarin malam” ucap Tuan Im tampak sedih. Bahkan ia tak mengatakan ini pada orang tuanya sendiri? Yeoja macam apa dia bisa melakukan semua ini sebegitu kuatnya.

“Ini semua salahku, harusnya aku lebih memperhatikan putriku. Ibu macam apa yang tak mengetahui penyakit anaknya yang sudah separah ini. Aku terlalu memntingkan pekerjaanku” ucap Nyonya Im terus menangis

“Sudahlah, tak ada gunanya kau menyalahkan dirimu sendiri. Berhentilah menangis” ucap Tuan Im menenangkan istrinya itu.

“Permisi Tuan, bolehkah aku melihat keadaan Yoona?” tanyaku

“Ne, masuklah” jawab Tuan Im mempersilahkan aku masuk kedalam kamar tempat Yoona dirawat

Setelah aku masuk, kulihat seorang yeoja yang sangat aku rindukan berbaring lemah diatas ranjang. Meski baru beberapa hari tak bertemu, aku benar-benar merindukannya. Terlebih senyumannya, akhir-akhir ini sangat sulit melihat senyuman indahnya itu. Senyuman yang dulu selalu menghiasi wajahnya

“Yoong?” ucapku menyapanya, meski aku tau ia tak akan menjawab sapaanku

“Mengapa kau melakukan ini?” ucapku lagi dengan mata mulai berkaca-kaca

“Yoong, apa kau ingin membuat semuanya merasa menjadi seorang pecundang? Bagaimana bisa kau menyembunyikan semua ini? Menanggung semua beban ini sendiri? Bahkan orang tuamu tak tau keadaanmu yang sebenarnya? Selama seatahun kau menahan dan menanggung semua ini tanpa kekuatan dari orang lain..” ucapanku terhenti ketika sebuah tangan lembut menggenggam erat tanganku

“Ini semua lebih baik Oppa” ucap seseorang pelan

“Yoong? Kau bangun? Mianhe, aku membangunkanmu” ucapku terkejut mendapati Yoona telah membuka matanya

“Ani, gwenchana” jawabnya tersenyum pilu

“Apa kau mau jawaban atas semua pertanyaanmu itu?” ucapnya

“Menanggung semua beban ini sendiri tanpa seorangpun yang membatu. Kurasa itu lebih baik, dibanding melihat semua orang merasa kasihan dan sedih karena keadaanku. Itu lebih membuatku sakit Oppa. Mianhe, aku tak dapat memberitaumu tentang semua ini” ucapnya pelan sembari meneteskan beberapa butiran air matanya

“Mengapa kau hanya memikirkan perasaan orang lain huh? Semua orang membutuhkan kasih sayang Yoong, termasuk kau. Im Yoon Ah, hatimu terbuat dari apa huh? Apa kau seorang malaikat? Aku bahkan tak yakin aku sendiri dapat menahan semua itu sendiri selama setahun” ucapku

“Oppa, aku mempunyai satu permintaan. Bisakah kau mengabulkannya?” ucapnya dengan mata berbinar-binar

“Emm.. Apa itu?” tanyaku

“Aku ingin pergi ke taman bermain dan seharian bermain denganmu” jawabnya

“Ne, kita aku melakukan itu jika kau sudah keluar dari sini” jawabku tersenyum

“Ani, aku ingin melakukannya sekarang. Hari ini bersamamu” ucapnya kemudian

“Yoong, kau masih sakit. Kau tak boleh keluar dari sini dulu, keadaanmu belum pulih” ucapku menasihatinya

“Shireo! Aku ingin sekarang Oppa. Jebal” ucapnya memelas

“Tapi Yoong…” ucapku berusaha mengelak

“Oppa, bagaimana jika sekarang adalah hari terakhirku? Kapan kita bisa melakukannya lagi? Jebal Oppa” ucapnya membuatku terdiam, Tuhan, apa maksud dari semua ini? Apa sebegitu cepatkah kau akan mengambilnya?

“Baiklah, aku akan bertanya pada Dokter” ucapku kemudian beranjak dan segera menuju ruang dokter

Beberapa menit kemudian, aku kembali ke kamar Yoona dengan surat izin yang telah diberikan dokter. Kulihat Yoona sudah bersiap-siap dengan shirt dan jaket yang menutupi tubuhnya.

“Kajja, aku sudah mendapatkan izin dari dokter” ucapku sembari tersenyum

“Kajja” jawabnya semangat

Aku dan Yoona segera masuk kedalam mobilku, aku melajukan mobil sesuai denga permintaan Yoona. Ke taman bermain, entahlah mengapa ia menginginkan kesini.

Sesampainya disana, Yoona segera menarik tanganku ke sebuah wahana. Pertama ia mengajakku menaiki Ice Skating, terlihat jelas matanya begitu berbinar-binar melihat lantai es putih. Setelah perlengkapan selesai dipasang, kami segera menuju area bermain.

“Oppa, aku tak bisa memainkan ini. Jangan tinggalkan aku” ucapnya menggenggam erat tanganku, wajahnya benar-benar menampakkan bahwa ia begitu ketakutan

“Kau yang mengajakku bermain ini tapi kau tak dapat memainkan ini?” tanyaku meledek

“Yak! Aku sudah tak memainkan ini bertahun-tahun” jawabnya

“Kajja” ucapku menarik lengannya,

“Oppa, jankkaman” teriaknya panik ketika aku menarik lengannya ketengah area.

“Hahahaa… Benar-benar mengasyikkan” ucapnya tertawa lepas, aku memperhatikan setiap raut wajahnya yang benar-benar berbeda dari akhir-akhir ini. Senyumannya yang sudah hilang karena penyakitnya kini. Entah, mungkin ini saat-saat terakhirku melihatnya seperti ini. Aku benar-benar tak sanggup kehilangan dia

Setelah cukup puas bermain Ice Skating, kami segera menuju beberapa wahana lain. Lima wahana telah kami naiki, hingga kami cukup merasa lelah. Kami pun duduk disebuah tempat duduk yang telah disediakan dengan es krim ditangan kami yang baru saja aku beli dari penjual es krim disana

“Aku benar-benar senang hari ini” ucap Yoona sembari duduk disebuah kursi

“Aku juga. Meski melelahkan, ini semua mengasyikkan” ucapku ikut duduk disampingnya

“Oppa…” ucapnya tiba-tiba

“Mm?” tanyaku

“Bagaimana jika ini hari terakhirku bersamamu?” tanyanya cukup membuatku terkejut

“Ani, masih banyak hari seperti ini yang akan kita lakukan bersama” jawabku berusah tersenyum meski pertanyaan itu begitu menyakitkan bagiku

“Oppa, kajja kita lihat matahari terbenam di suatu tempat” ucap Yoona kemudian berdiri dari tempat duduknya

“Mwo? Kemana?” tanyaku bingung

“Kajja” ucapnya menarik tanganku semangat

Aku mengarahkan laju mobilku sesuai keinginan Yeoja ini. Dia benar-benar membuatku bingung saat ia mengarahkan menuju Sungai Han. Sesampainya disana, kami segera turun dan menduduki sebuah kursi ditepi sungai. Persis saat aku menyatakan perasaan namun ditolak mentah-mentah olehnya

“Mau apa kita disini?” tanyaku bingung

“Duduklah” ucapnya menyuruhku duduk tepat disampingnya

“Oppa, bisakah kau mengulangi pernyataanmu saat itu?” ucap Yoona membuatku semakin bingung

“Mwo? Kata-kata apa?” tanyaku

“Saat kau menyatakan perasaanmu yang kutolak” ucapnya

“Untuk apa?” tanyaku semakin bingung

“Dulu aku benar-benar mengatakan sesuatu bukan dari hatiku. Kini, aku ingin mengatakan yang sebenarnya. Jebal, ulangi” ucapnya sembari tersenyum

“Baiklah, tunggu akan kuingat-ingat dulu” ucapku

“Yoong..” ucapku sembari menggenggam tangannya, persis sepeti yang kulakukan saat itu,

“Apa kau tau? Aku benar-benar menyukaimu, ani aku mencintaimu Yoong. Bisakah kita lebih dekat dibanding sepasang sahabat?” tanyaku

“Yoona, saranghae” ucapku lantang

“Nado saranghae Oppa” jawabnya, sangat berbeda dengan jawaban saat itu

“Apa kini aku telah menjadi milikmu?” tanyanya

“Ne” jawabku tersenyum

“Oppa..” ucap Yoona pelan sembari terus menggenggam tanganku erat

“Gomawo” lanjutnya membuatku penasaran

“Untuk apa?” tanyaku

“Gomawo telah hadir dan menemani hidupku. Gomawo telah mewarnai hari-hariku dan menghapus setiap luka yang kurasakan. Aku benar-benar tak tau bagaimana aku jika tanpamu. Kau satu-satunya orang yang menjadi alasan mengapa aku dapat bertahan hidup sampai sekarang, ditengah penyakit yang sudah menggerogoti tubuhku. Kau seseorang yang selalu memberiku semangat hidup walau secara tak langsung. Kau juga yang tetap membuatku menjadi yeoja ceria meski berbagai masalah menimpaku dulu. Meski aku telah kehilangan keceriaan itu, hatiku masih ceria dengan adanya dirimu disampingku. Oppa, jeongmal gomawo-yo. Aku benar-benar berterimakasih padamu, dan tuhan yang telah menciptakan dan mengirimmu kedalam hidupku. Aku benar-benar tak tau bagaimana cara membalas semuanya” ucapnya sembari menteskan beberapa air mata di pipi indahnya

“Cheonma, kau cukup dapat membalas semuanya dengan selalu ada disampingku dan tersenyum. Itu semua sudah cukup bagiku, melihatmu tersenyum dan tertawa bagaikan memberiku sesuatu yang tak dapat dinilai dengan apapun. Yoona, denganmu berubah dari gadis yang sangat ceria menjadi gadis yang pendiam dan selalu menyendiri bagaikan kehilangan semangat hidup. Itu benar-benar membuatku merasa sakit. Im Yoon Ah, tetaplah berada disampingku seperti ini” ucapku

“Entahlah, aku tak yakin dapat melakukan itu” ucap Yoona membuatku semakin terpukul . Apa ini akhir dari segalanya? Apa kau ingin mengambilnya Tuhan?

“Oppa…” ucapnya lagi

“Mm?” tanyaku

“Kau, kau sudah melakukan segalanya dengan baik. Kau sudah membahagiakanku sesuai dengan janjimu saat kita pertama kali berteman dan bersahabat. Janjimu bahwa kau akan membahagiakanku dan selalu membuatku tersenyum saat aku masih menginjakkan kaki di dunia ini. Kau sudah menepatinya dengan sangat baik, bahkan lebih dari sangat baik. Aku benar-benar yeoja tak tau diri yang tak dapat membalas semua perlakuanmu. Dengan memintaku selalu berada di sisimu, aku benar-benar tak bisa melakukannya Oppa. Tetaplah tersenyum seperti ini, walau aku tak disampingmu lagi. Maish banyak yeoja yang lebih baik dariku diluar sana yang menginkan Oppa yang tampan dan baik. Dari sana, aku akan melihatmu bersanding dengan orang lain dengan senyuman menghiasi wajahmu. Aku pasti akan bahagia melihat itu dari sana. Kau tau kan? Alasanku mengapa tak memberitahu semua orang mengenai penyakitku. Ya, karena aku tak mau mereka menangis hanya karenaku. Jadi, kumohon jangan menangisiku bagaimanapun keadaannya. Dan, beritaukan pada semua orang yang menyayangiku agar tak pernah menangisiku lagi. Ucapkan juga, semua permintaan maaf dan terima kasihku yang tak dapat terhitung lagi pada mereka. Oppa, tugasmu sudah selesai. Tugas untuk menjagaku, akan banyak tugas yang harus kau lakukan pada yeoja lain. Lakukankah seperti kau melakukannya untukku. Oppa, jeongmal gomawo” ucapnya sembari terus meneteskan air mata.

“Apa yang kau bicarakan?” tanyaku bingung aku benar-benar khawatir dengan semua perkataannya

“Juga, katakan pada Yuri unnie dan Jessica unnie, terima kasih untuk semuanya dan aku benar-benar minta maaf dengan semua yang selama ini aku perbuat pada mereka” ucap Yoona

“Ani, kau akan mengatakan itu pada mereka. Kau masih memiliki banyak waktu untuk mengatakan itu semua Yoong!” jawabku

“Ani, tak ada waktu lagi Oppa” ucapnya, tiba-tiba darah segar mengalir dari hidung manisnya

“Yoong, hidungmu berdarah. Kajja kita kembali ke rumah sakit” ucapku panik, namun ia segera menggenggam lenganku bermaksud mencegahku

“Ani, tetaplah disini bersamaku. Untuk yang terakhir kali bersama orang yang memilikiku di saat terakhirku” ucapnya manarikku kembali duduk disampingnya

“Tapi Yoong…” ucapku terputus karena ia segera menyandarkan kepalanya ke bahuku

“Biarkan aku terlelap disini” ucapnya dengan darah yang semaki mengalir deras ikut membasahi baju yang kukenakan

“Yoong, andwae!! Kau tak akan meninggalkanku kan?” tanyaku bingung

“Oppa, aku tak akan meninggalkanmu. Aku selalu disampingmu. Biarkan aku terlelap di bahu orang yang memilikiku, di tempat indah ini. Bukankah menyenangkan?” ucapnya tersenyum kemudian memejamkan matanya

“Yoong…” ucapku

“Yoong…” teriakku sembari menangis

“Andwae!!!!!!” teriakku

“Gomawo dan selamat tinggal Oppa” ucapnya untuk terakhir kalinya sembari tersenyum dengan darah yang berlumuran dimana-mana

“Yoong” ucapku lirih dengan air mata terus menetes

-^^-

Tertidur di bahu orang yang memilikiku terakhir kalinya, tertidur dibawah senja yang indah. Tertidur di sebuah tempat romantis, bukan tertidur melainkan tertidur selamanya. Bukankah aku orang yang beruntung? Tertidur untuk selamanya bersama seseorang yang istimewa, di waktu yang menenangkan dan ditempat romantis ini.  Aku, Im Yoon Ah dari sini akan selalu menyayangimu Donghae Oppa. Begitu juga dengan Yuri unnie dan Jessica unnie. Meski ragaku tak disana disamping kalian lagi, namun jiwa dan hatiku masih tetap disisi kalian. Hidupku di dunia benar-benar indah dengan adanya kalian, dengan kalian yang selalu membuatku ceria di sela-sela permasalahan yang menyulitkan. Donghae Oppa, kau yang menemaniku saat aku sendiri tanpa eomma dan appa dengan pekerjaannya, kau yang membuatku bertahan selama setahun lamanya dengan seluruh penyakit ini.  Yuri unnie, Jessica unnie, kalian yang selalu menyemangatiku kembali menjadi yeoja ceria tanpa lelah juga selalu menemaniku walau aku selalu mengacuhkan kalian. Semua permasalahan itu, Itu semua terasa menyakitkan bagiku, namun kalian selalu setia berada di sisiku dan memberiku semangat. Lee Donghae, Kwon Yuri, Jessica Jung! Gomawo, telah membuatku menjadi yeoja sesempurna ini selama hidup di dunia

-Im Yoon Ah-

 

-END

Iklan

7 thoughts on “[Fanfiction] [One Shoot] The Last Moment

  1. “Baiklah, tunggu akan kuingat-ingat dulu” -donghae
    aduhh kenapa aku malah ngakak baca kalimat itu? hae polos banget sih lupa sama kata2 sendiri -_-
    nice. aku suka. feelnya juga dapet. cuman ya aku masih megap-megap adekk pas baca kalimatnya yoona yg telebet panjang itu –”
    oh ia, ini ide ceritanya sama kayak ff aku 😀 tapi beda penyakit, beda tokoh XD
    aku tunggu ff selanjutnya yaa 🙂

  2. bagus. tapi setau aku, dokter gak mau kasi tau penyakit yang parah gini kalo bukan langsung ke ortu pasien. maaf, ini cuma sekedar info biar cerita semakin perfect! =)) good job author.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s